Dosen Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin, Dr. Jamaluddin Fitrah Alam, terpilih mewakili Indonesia dalam ASEAN–Australia Centre Leadership Program on Agricultural Sustainability and Food Systems, sebuah program kepemimpinan regional yang berfokus pada pertanian berkelanjutan, ketahanan iklim, dan transformasi sistem pangan.
Program yang diselenggarakan oleh ASEAN–Australia Centre bekerja sama dengan The University of Queensland ini mempertemukan para pemimpin muda dan profesional tingkat menengah dari 12 negara di kawasan ASEAN dan Australia. Setiap negara mengirimkan dua orang perwakilan, termasuk Indonesia dan Australia, untuk mengikuti rangkaian pembelajaran dan pengembangan kepemimpinan yang menitikberatkan pada pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture), sistem pangan berkelanjutan, biosekuriti, inovasi digital, rantai nilai, serta kolaborasi lintas negara.
Pelaksanaan program berlangsung pada Maret hingga Mei 2026 dan terbagi dalam tiga tahapan, yaitu pembelajaran daring pada 5 Maret–16 April 2026, pelaksanaan kegiatan secara langsung di Australia pada 20–26 April 2026, serta penyusunan proyek terapan secara daring pada 7–28 Mei 2026. Rangkaian tersebut dirancang untuk mengombinasikan pembelajaran konseptual, pengalaman lapangan, dan pengembangan proyek yang dapat diterapkan di negara masing-masing.
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas para pemimpin muda ASEAN dan Australia dalam merancang, mengimplementasikan, serta mendorong sistem pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim, aman secara hayati, dan didukung oleh pemanfaatan teknologi. Selain itu, peserta juga dibekali pendekatan systems thinking, kemampuan pemecahan masalah secara kolaboratif, serta penerapan berbagai perangkat analisis untuk menjawab tantangan nyata dalam sistem pangan.
Selama kegiatan di Australia, para peserta mengikuti berbagai sesi akademik, kunjungan institusi, serta pembelajaran lapangan yang difasilitasi oleh The University of Queensland dan mitra-mitranya. Materi yang dipelajari mencakup pertanian cerdas iklim untuk petani skala kecil, pengurangan kehilangan hasil pascapanen, penguatan rantai nilai, peningkatan ketahanan tanaman, pertanian digital, inovasi peternakan, kebijakan pertanian, sistem ketertelusuran (traceability), hingga pengembangan kemitraan regional.
Peserta juga melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah institusi dan perusahaan, di antaranya Mulgowie Farming Company untuk mempelajari praktik pertanian berkelanjutan, Grains Research and Development Corporation (GRDC) di Toowoomba yang berfokus pada inovasi sistem produksi serealia yang tangguh, Queensland Animal Science Precinct, serta fasilitas UQ Gatton yang menampilkan pemanfaatan teknologi drone untuk pemantauan tanaman, pengelolaan air, dan deteksi dini hama.
Dalam program tersebut, Dr. Jamaluddin mengembangkan proyek akhir (capstone project) mengenai pemetaan sistem (system mapping) untuk budidaya rumput laut berkelanjutan, dengan menjadikan industri rumput laut Indonesia sebagai studi kasus. Proyek ini bertujuan memahami keterkaitan antara tekanan lingkungan, kesejahteraan pembudidaya, dinamika pasar, koordinasi kelembagaan, dan risiko perubahan iklim dalam sistem produksi pesisir.
Proyek tersebut dinilai relevan dengan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, sekaligus memperkuat peran strategis Sulawesi Selatan sebagai sentra utama produksi rumput laut nasional. Pendekatan system mapping diharapkan mampu memberikan gambaran yang lebih komprehensif terhadap berbagai tantangan yang selama ini dihadapi, seperti fluktuasi produksi, risiko penyakit, ketidakkonsistenan kualitas produk, tekanan pasar, serta lemahnya koordinasi antarpemangku kepentingan.
Selain aspek teknis, peserta juga memperoleh wawasan mengenai kebijakan publik dan dinamika pasar melalui berbagai sesi di kampus The University of Queensland St Lucia. Pembahasan meliputi bagaimana kebijakan pertanian, insentif pasar, dan kerangka kelembagaan memengaruhi keberlanjutan sistem pangan, serta pentingnya biosekuriti, ketertelusuran produk, pemantauan kesehatan ternak, dan integritas rantai pasok.
Pada akhir program di Australia, peserta mengikuti diskusi panel mengenai ketahanan iklim, kebijakan pertanian cerdas iklim, transformasi digital sektor pangan, kolaborasi regional ASEAN–Australia, serta mempresentasikan proyek akhir masing-masing untuk memperoleh masukan dari akademisi dan pakar The University of Queensland. Keikutsertaan Dr. Jamaluddin Fitrah Alam mencerminkan semakin kuatnya kiprah internasional Universitas Hasanuddin dalam bidang ilmu kelautan, ekonomi biru, akuakultur berkelanjutan, serta pembangunan masyarakat pesisir yang adaptif terhadap perubahan iklim. Partisipasi ini juga memperluas jejaring kolaborasi internasional Universitas Hasanuddin sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam pertukaran pengetahuan ASEAN–Australia mengenai isu-isu strategis yang menghubungkan sektor pertanian, perikanan, ketahanan pangan, dan pembangunan pesisir berkelanjutan.


